Lompat ke konten
Home / Tempat Wisata / Lawang Sewu, Bangunan Bersejarah Bikin Merinding di Kota Semarang

Lawang Sewu, Bangunan Bersejarah Bikin Merinding di Kota Semarang

Tidak terasa kereta eksekutif yang kita tumpangi dari stasiun Gambir akhirnya tiba di Stasiun Poncol Semarang. Berangkat sore sekitar pukul 5 dan sampai di kota Semarang pukul 12 malam. Perjalanan ditempuh kurang lebih 7 jam. Langsung ambil taksi, tawar-menawar harga pas langsung meluncur ke Quest Hotel di daerah Jalan Plampitan.

Hotel ini saya pilih selain harganya yang murah juga dekat dengan beberapa objek wisata seperti pecinan (Chinatown) yang dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Tak ketinggalan kawasan legendaris Simpang Lima yang terkenal sebagai pusat gedung pemerintahan. Dan tentu saja Lawang Sewu, bangunan peninggalan belanda yang sangat populer di Simpang Lima Semarang.

Sejarah Singkat Lawang Sewu Semarang

Lawang Sewu atau terjemahan dalam bahasa Indonesianya seribu pintu merupakan bangunan bersejarah yang berusia lebih dari 1 abad. Pembangunan lawang sewu berlangsung pada tahun 1904 dan selesai 3 tahun kemudian pada tahun 1907. Bangunan ini merupakan rancangan Prof. Jacob F.Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag yang berdomisili di Amsterdam. Seluruh proses perancangan dilakukan di Belanda dan kemudian gambarnya dibawa ke kota Semarang.

Foto Lawang Sewu Tempoe Doloe sumber: wikipedia.com

Foto Lawang Sewu Tempoe Doloe sumber: wikipedia.com

Masyarakat pada waktu itu menamakan Lawang Sewu karena bangunan ini memiliki banyak pintu dan jendela yang tinggi dan lebar. Walaupun pada kenyataannya jumlah pintu yang terdapat di Lawang Sewu tidak mencapai seribu pintu. Yang dikenal masyarakat setempat sebagai Lawang Sewu adalah bangunan kantor pusat NIS (Bangunan administrasi perkantoran kereta api) sebenarnya bernama Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij.

Yang menarik minat saya untuk berkunjung ke Lawang Sewu adalah selain bangunan ini lebih dikenal oleh masyarakat kita sebagai salah satu tempat di Semarang yang angker, Lawang Sewu dulunya adalah kantor pusat NIS. Lawang Sewu juga sempat dipakai oleh penjajah Jepang dan ruangan bawah tanahnya dipakai sebagai penjara untuk menawan para tawanan. Saya pada saat itu mengunjungi Lawang Sewu pada malam hari, kesan pertama yang muncul begitu berada di gerbang, bangunan ini terlihat begitu megah. Dengan penerangan lampu jalan dan lampu-lampu yang berada di Lawang Sewu yang berwarna kuning justru menambah kesan misterius dan megah.

Menyusuri Bangunan Bersejarah Lawang Sewu

Saya dan teman-teman langsung menuju loket yang berada dekat dengan pagar gerbang Lawang Sewu untuk membeli tiket. Pengunjung Lawang Sewu diwajibkan untuk menjelajahi Lawang Sewu dengan pemandu agar bisa mengetahui dengan jelas fungsi di tiap-tiap bagian Lawang Sewu yang cukup luas. Harga tiket ke Lawang Sewu adalah sebesar Rp. 10.000,- per orangnya, dan Rp. 30.000,- untuk pemandu/rombongan (wajib) yang ternyata tidak termasuk untuk pemandu masuk ke penjara bawah tanah/ruangan bawah tanahnya. Untuk memasuki ruangan bawah tanah didampingi pemandu dikenakan lagi biaya Rp. 30.000/rombongan. Saya pikir harga tiket tersebut pantas ketika mengelilingi Lawang Sewu dan mendapati memang bangunan tersebut dijaga dengan baik.

Pelataran dan Taman dikelilingi Gedung Tua Lawang Sewu

Pelataran dan Taman dikelilingi Gedung Tua Lawang Sewu

Pemandu mengantarkan kami langsung ke lantai 2 Lawang Sewu bermodalkan senter, karena penerangan yang terdapat di Lawang Sewu hanya ada di museum dan beberapa bagian di lantai 1 saja. Bahkan lantai 1 yang kami lewati ketika kami naik tangga ke lantai 2 juga tidak terdapat penerangan. Menuju lantai 2 dengan penerangan dari senter dan lampu flashlight handphone harus cukup hati-hati jika tidak mau tersandung di tangga. Di lantai 2, kami langsung memasuki ruangan tidak jauh dari tangga, tidak ada lagi pintu yang menghubungkan antar ruangan, saya bisa melihat kusennya masih ada dan sangat kokoh mengingat Lawang Sewu berusia lebih dari 1oo tahun. Ruangan yang kami masuki adalah ruangan yang menurut pemandu kami dulunya adalah ruangan tidur para pekerja Belanda yang bekerja di NIS.

Ruangan itu memanjang tanpa sekat sampai ke ujungnya, tetapi bekas pintu/kusen terlihat ada beberapa di sepanjang lorong ruangan tersebut. Langit-langit dalam ruangan yang dahulunya adalah kamar pekerja dari Belanda sangat tinggi. Konon sengaja dibuat tinggi mengingat cuaca di Semarang memang panas. Saya juga melihat ada wastafel kuno yang terletak di ruangan itu. Wastafel yang digunakan untuk sekedar membasuh muka dan tangan yang tadinya hanya bisa saya lihat di film-film barat yang berlatar kehidupan jaman dulu seperti film Sherlock Holmes.

Lantai Atas Lawang Sewu Tempat Berdansa Noni Belanda

Salah satu gedung tua lawang sewu, pencahayaan malam hari sangat cantik memaparkan keindahan dan kemegahan Lawang Sewu

Salah satu gedung tua lawang sewu, pencahayaan malam hari sangat cantik memaparkan keindahan dan kemegahan Lawang Sewu

Menuju ke lantai paling atas di bagian lainnya, ternyata terdapat ruangan yang sangat luas tanpa sekat-sekat. Ruangan ini dulunya dipakai sebagai tempat hiburan, dimana para pekerja Belanda dan noni-noninya biasa minum-minum dan berdansa. Di bagian dekat ujung ruangan dahulu difungsikan sebagai meja bar. Di ruangan dansa ini juga terdapat banyak jendela yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk memandang bangunan Lawang Sewu dari atas. Kamu bisa mengambil foto dari jendela ke luar gedung dan mendapat foto Lawang Sewu dari atas yang bagus. Kalau pemandu kamu iseng seperti yang saya dapat, kamu akan diminta untuk uji nyali dengan berjalan dari ujung satu ke ujung lainnya tanpa penerangan senter. Hanya dengan bermodalkan sedikit cahaya dari jendela-jendela yang tidak ada tutupnya. Suasana yang cukup gelap ditambah minimnya suara dari luar lumayan akan membuat jantung kamu berdegup kencang, karena kamu hanya akan mendengar langkah kaki kamu. Hehehe..

Lantai atas sudah dijelajahi, lalu kami turun lagi ke bawah. Kalau kamu tidak berminat ke penjara bawah tanahnya, kamu langsung akan diarahkan ke museum, dan tugas pemandu selesai. Karena sudah ada di Lawang Sewu, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk langsung melihat penjara bawah tanah pada malam hari. Terdapat lebih dari satu jalan menuju penjara bawah tanah, tetapi salah satu pintu menuju penjara bawah tanah sudah tidak ada tangganya lagi. Sebelum menuju penjara bawah tanah, kamu akan diminta untuk menitipkan sepatu/sandal kamu di dekat pintu turun ke penjara bawah tanahnya. Kamu juga akan diminta untuk memakai sepatu boots plastik, yang tersedia di sana.

Basement Lawang Sewu Jejak Sejarah Bikin Merinding

bak-bak yang terletak di basement lawang sewu yang fungsinya pada zaman belanda sebagai penampung air untuk menurunkan suhu ruang gedung. Namun saat pemerintah jepang konon dijadikan penjara.

bak-bak yang terletak di basement lawang sewu yang fungsinya pada zaman belanda sebagai penampung air untuk menurunkan suhu ruang gedung. Namun saat pemerintah jepang konon dijadikan penjara.

Ruangan di bawah tanah (basement) Lawang Sewu atau yang dikenal sebagai penjara bawah tanah sebenarnya berfungsi sebagai saluran air dan juga ruangan pendingin. Arsitektur yang merancang Lawang Sewu sengaja membuat lorong bawah tanah karena letak Semarang yang dekat dengan laut dan panas. Ruangan bawah tanah ini bisa dipenuhi dengan air yang bisa berfungsi sebagai pendingin untuk ruangan di atasnya. Selain itu ruangan bawah tanah ini juga berfungsi untuk menangkal banjir karena air pasang. Karena air bisa masuk ke ruangan bawah tanah dan dialirkan kembali.

Yang cukup menarik lagi dari Lawang Sewu, ruangan bawah tanah yang terdapat di bangunan ini ternyata menghubungkan Lawang Sewu dengan bangunan tua lainnya di kota Semarang. Yang sudah diketahui saat ini ruangan bawah tanah di Lawang Sewu menghubungkan ke kawasan kota lama yang jaraknya sekitar 4-5 km dari Lawang Sewu.

Memasuki ruangan bawah tanah di Lawang Sewu hanya terdapat beberapa lampu kuning yang menyala. Salah satunya di tangga turun menuju ruangan bawah tanah. Sebagian besar lorong sangat gelap karena tidak terdapat penerangan. Lantai ruangan bawah tanah digenangi air yang berwarna cokelat. Ruangan bawah tanah atau yang dikenal juga sebagai penjara bawah tanah tingginya hanya 2 meter. Bahkan kadang saya harus menunduk untuk melewatinya tempat tertentu di bagian lorongnya.

Kamar-kamar kecil berukuran 1x1 meter yang juga terletak di basement lawang sewu. Konon kamar-kamar kecil ini adalah penjara yang bisa memuat 10 orang dewasa.

Kamar-kamar kecil berukuran 1×1 meter yang juga terletak di basement lawang sewu. Konon kamar-kamar kecil ini adalah penjara yang bisa memuat 10 orang dewasa.

Pemandu saya mulai bercerita tentang kekejaman yang terjadi di penjara bawah tanah ini. Ketika Jepang berhasil menduduki Semarang, ruangan bawah tanah di Lawang Sewu dijadikan penjara bawah tanah oleh tentara Jepang. Penjara bawah tanah di Lawang Sewu bukan hanya untuk menawan penduduk pribumi saja, tapi juga orang Belanda. Terdapat dua jenis ruang tahanan, yaitu penjara jongkok dan penjara berdiri.

Disalah satu lorong penjara bawah tanah saya melihat ada ruangan yang terdiri dari beberapa bak yang tingginya hanya 0.5 meter. Di sinilah penjara jongkok yang dimaksud, para tahanan harus berjongkok di dalamnya lalu diisi air hingga sebatas leher dan bak itu lalu ditutup teralis besi. Sementara penjara berdiri hanya berukuran 1×1 meter. Para tahanan yang jumlahnya 7-8 orang disuruh berimpitan di dalam penjara itu. Jangankan untuk duduk, dengan ruangan sekecil itu, jongkok saja tidak bisa. Penjara bawah tanah yang terdapat di Lawang Sewu konon dibuat bukan untuk menawan, tetapi untuk menyiksa para tahanan hingga tewas. Lalu kemudian mayat tahanan tinggal dilempar di sungai yang terdapat di belakang Lawang Sewu.

Tidak sulit membayangkan apa yang terjadi di penjara bawah tanah ini, kesan sunyi dan angker yang saya rasakan selama berada di ruangan bawah tanah ini mungkin berbanding terbalik dengan betapa pilunya teriakan para tahanan yang disiksa di penjara bawah tanah ini. Pemandu kami lalu mengarahkan kami menuju pintu keluar penjara bawah tanah, sebelum menuju pintu keluar, di dinding ruangan bawah tanah tersebut terdapat seperti pipa gas. Kalau kamu pernah menonton uji nyali di salah satu stasiun TV, kamu pasti tahu tepat di dekat pipa ini peserta uji nyali menyerah karena melihat salah satu penampakan.

Museum Kereta Api Lawang Sewu Unik dan Antik

Setelah mengitari penjara bawah tanah Lawang Sewu, saya menuju ke Museum yang terletak di lantai dasar bangunan Lawang Sewu. Beberapa yang bisa dinikmati di museum Lawang Sewu antara lain, saya bisa melihat lokomotif uap kuno berseri C 2301 yang dibuat tahun 1908 yang dipajang di area halaman museum. Konon loko tua ini melayani rute antara jalur Semarang – Jatirogo dan Semarang – Blora sampai tahun 1980. Di dalam museum Lawang Sewu, saya juga melihat beberapa peralatan perkeretaapian seperti Tuas Wesel Alkmaar yang berfungsi menggerakkan palang sinyal atau mengatur lalu lintas kereta api tempo dulu.

Sejarah kereta api bisa saya saksikan di museum Lawang Sewu, seperti jalur pertama yang dibangun di Pulau Jawa. Selain itu, blue print gedung Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau yang kita kenal sebagai Lawang Sewu juga terpampang jelas di dinding museum. Foto-foto kuno kereta api jaman dulu dan beberapa stasiun juga dapat saya saksikan di sana. Pemilihan bahan-bahan bangunan seperti batu bata yang dipakai untuk membangun Lawang Sewu juga bisa dilihat karena termasuk dalam koleksi museum. Beberapa material bangunan yang dipakai seperti batu bata konon didatangkan langsung dari Belanda saat membangun Lawang Sewu. Tidak heran sampai sekarang setelah lebih dari 100 tahun, bangunan ini tetap berdiri kokoh.

Terlepas dari sejarah Lawang Sewu yang kelam karena sempat dipakai sebagai tempat di mana para tawanan pribumi dan Belanda disiksa oleh tentara Jepang. Lawang Sewu merupakan salah satu gedung bersejarah yang terletak di Semarang. Mengenal lebih jelas sejarah perkeretaapian di Indonesia, ditambah lagi dengan tata ruang gedung Lawang Sewu yang sangat terencana menjadikan gedung tua ini sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah di kota Semarang yang patut dilindungi.

Kesan Saya Mengunjungi Lawang Sewu

Megahnya bangunan lawang sewu memberikan kesan yang sangat mendalam. Bagaimana pentingnya gedung ini dimasa jayanya. Bagaiamana arsitektur di masa lampau bisa menciptakan gedung yang sangat mewah dan sangat fungsionalis. Mulai dari lantai dasar hingga lantai atas semua sepertinya udah terencana dengan baik. Secara keseluruhan saya hanya bisa mengatakan 1 titik sejarah bangsa pernah ada di gedung ini. Dan sayang sekali kalau gedung ini tidak dijaga dengan baik atau malah gosipnya mau diubah peruntukkannya untuk foodcourt (wadoooh…).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.